Jumat, 21 November 2008

Masyarakat Kepri Sudah Dewasa

Rahmatsyah Ramadhany MBA,MSc, Caleg DPR RI Asal Partai Golkar Dapil Kepri

Selasa (7/10) sekitar pukul 14.15,Batam Pos bertemu Rahmatsyah Ramadhany MBA,MSc, atau biasa disapa Bang Dhany Ismeth. Nama ”Ismeth” merujuk pada nama ayahandanya, Ismeth Abdullah yang kini menjabat Gubernur Kepulauan Riau. Bang Dhany Ismeth diusung Partai Golkar untuk menuju kursi DPR RI dari Provinsi Kepri.
Dengan latar belakang praktisi ekonomi,kenapa terjun ke politik praktis? Dan bagaimana kiprahnya di tengah bayang-bayang nama besar keluarga? Berikut petikan wawancarannya.

Pertemuan kami dan Dhany Ismeth dihelat di sebuah rumah, kawasan elit Batam Center. Rumah tertutup pagar besi tinggi ini terletak di pojokan.
Tanahnya sangat luas, di samping kiri ada sebuah tanah kosong. Di sana berdiri sebuah gazebo berbahan bambu dan beberapa tanaman hias.
Saat saya ke sana, dua orang Dhany Ismeth menyambut. “Oh tak usah dilepas, masuk aja” katanya, saat melihat kami akan melepas sandal yang kotor dan basah oleh hujan. Memang saat itu hujan deras beserta guntur tengah menguyur, membuat pakaian basah.
Selanjutnya kami dibimbing menuju ruang tamu yang berada di sayap kanan rumah. Lantainya berbahan kayu batangan warna coklat tua. Untuk menuju ruang tamu ini, kami melintasi ruang dekat pintu. Jika digabung, luasnya mencapai 50 meter persegi.
Meski besar, rumah ini dibiarkan kosong. Perabot yang ada tak banyak; di ruang tamu hanya ada satu set sofa vinyl warna hitam. Di sisi kanan dindingnya, terpajang sebuah lukisan 2 meter x 180 cm, bergaya Victoria berbingkai plastik dengan relif ukir warna keemasan.
Siang itu, Dhany Ismeth tampil sangat casual

. Ujung kemeja putih lengan pendek yang dia kenakan tampak dibiarkan tak terobras, sehingga seratnya berhambur ke luar. Sebuah kaca mata minus frame ramping menghias kedua matanya. Modelnya mirip yang dipakai penyanyi Afgan.
Dari gambaran ini, jelas bahwa Dhany orang yang terorganisir dan memperhatikan penampilan. Istilahnya fashionable. Tak heran saat akan kami foto dia menolak, “Jangan deh, tak enak. Masak saya pakai baju seperti ini? Nanti saya kasih foto yang rapi,” balasnya.
***
Majunya Anda menjadi caleg, apa ada pengaruh dari nama besar orang tua Anda yang notabene Gubernur Kepri?

>
Memang itu pertanyaan yang klise. Dan pertanyaan itu banyak sekali ditanyakan ke saya. Selama 11 tahun, sejak tahun 1978 rasanya saya tidak bisa menutupi diri lagi. Jadi selama ini, saya lebih banyak berperan di balik layar karena selama ini itulah yang saya jaga (nama besar orang tua, >red

), jangan sampai image

di masyarakat tidak baik. Tapi lama kelamaan hal itu tidak bisa lagi dan sudah waktunya harus maju. Kalau kita mempunyai kapasitas untuk berbuat, rasa-rasanya masyarakat di Kepri ini sudah tahu lah. Bagaimana kepemimpinan gubernur Kepri sekarang, idealismenya, komitmennya dan konventensinya tidak diragukan lagi.
Dan gubernur perlu didukung oleh banyak orang yang mempunyai pemikiran yang sama agar tidak keluar dari rel awal Provinsi Kepri ini dibentuk. Jadi saya rasa masyarakat Kepri sudah dewasa.
Jadi kadang saya berkifir di luar sistem pun saya bisa membantu, apalagi kalau saya sudah di dalam. Siapa nanti yang akan menikmati, tentu teman-teman di Kepri.
***
Pengalamannya berorganisasi di AMPI dan di Golkar, membuatnya cukup tuntas dan rinci saat berbicara. Di sini kiprah Dhany banyak bergelut di bidang hubungan luar negeri, sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Terlepas dari dia anak seorang gubernur, Dhany sendiri termasuk orang muda yang sukses dan berotak encer. Di usianya, sudah menjabat bagian >Treasury

di Bank Eksim. Di bank, jabatan ini merupakan posisi puncak.
“Orang banyak melihat keluarga kami yang sekarang. Padahal dulu kami tak seperti ini. Sejak kecil saya selalu dididik mandiri. Bahkan saat kuliah, saya kerap nyambi bekerja kasar seperti memotong bingkai, sebelum akhirnya bekerja sebagai bendahara kampus,” kisahnya.
Dhany adalah lulusan universitas di Amerika. Tak heran dia sangat amat fasih dan berpengalaman dalam hubungan luar negeri. Pengalaman kerjanya di bank membuatnya tak hanya mahir bekerja, namun berbicara dan menganalisa soal ekonomi khususnya keuangan. Semua instrumen dia hafal, mulai capital market dan equity market, hingga menejemen perencanaan yang dia sebut management by insiden dan managemen by objektif.
Apa program yang harus Anda lakukan nanti?


Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, program yang harus segera dilakukan menyongsong FTZ ini adalah peningkatan SDM masyarakat Kepri. Dengan SDM itu, masyarakat tempatan bisa bersaing dengan pekerja asing. Saya akan memperjuangkan agar level manejer perusahaan asing di Batam, bisa diisi warga tempatan. Jangan hanya di level operator saja.
Selain itu kita akan mencanangkan program peningkatan masyarakat usaha. Program ini mengajak seluruh masyarakat menjadi wirausaha, jadi lebih maju dari program UKM yang selama ini dicanangkan.
Program yang akan saya lounching di Kepri dalam waktu dekat ini adalah Badan Pengembangan Kelompok Profesi Masyarakat (BPKPM). Program ini sudah disetujui pemerintah pusat. Selama ini masyarakat sering dihembus program ekonomi kerakyatan, namun untuk mendapat kredit UKM itu tidak mudah. Programan BPKPM ini baru ada 14 di Indonesia, mudah-mudahan Provinsi Kepri yang ke-15. Tugas badan ini adalah menfasilitasi dan membantu menjamin kredit-kredit yang dikucurkan oleh bank-bank plat merah (BRI, BNI dan Bukopin) yang sudah bekerja sama dengan Departemen Pertanian, Departemen Koperasi dan UKM.
Terlepas sebagai caleg atau tidak, program ini terus harus bergulir. Mudah-mudahan ini akan menjadi tali dari saya nanti untuk saya sumbangkan ke Kepri melalui kontituen saya. Setelah UKM ini tumbuh kita baru investor yang disongsong oleh FTZ.
Jadi kalau kehidupan rakyat sudah terpenuhi, maka mereka akan meningkatkan kualitas.
***


Batam Pos

juga meminta agar Dhany berkomitmen supaya tak melupakan Kepri-1> jika terpilih kelak. Dhany pun setuju. Menurutnya, memang komitmen itu perlu. “Saat ini sudah terlalu banyak orang (DPR) yang pantar, namun yang penting kita punya kecintaan dan komitmen terhadap daerahnya. Mereka hanya memandang jabatan sebagai pekerjaan saja, bukan amanah,” sebut pria yang suka >travelling

.
Dilanjutkannya, kalau semua lembaga legislatif dan eksekutif di Pemprov kompak, semua krisis di Kepri bisa dilalui dengan cepat.
Saat ditanya bagaimana warga Kepri bisa mengetahu kinerja Dhany untuk daerah ini, saat sudah duduk di DPR nanti? Dhany menjawab akan melakukan komunikasi intens dengan media. Selain itu, dia akan menjemput masalah, memasang mata dan telinga tentang apa yang terjadi di Kepri ini. Sehingga bisa langsung memecahkannya.
Hal ini juga sempat dilakukan salah seorang Wali Kota New York. Setiap minggu, dia menyediakan waktu bagi masyarakat untuk mengetahui kinerjanya. Tak usah jauh-jauh, Wapres Jusuf Kalla juga melakukan ini tiap habis salat Jumat. ”Untuk Kepri, saya akan berupaya membuka ponsel 24 jam penuh,” tegas bapak yang hobi naik sepeda ini.

Setelah nanti Anda terpilih, apa kiat-kiatnya untuk mendatangkan investor?


Saat ini regulisasi kawasan FTZ sudah dibentuk, dan BPK (Badan Pengusaha Kawasan) di masing masing-masing wilayah juga sudah dibentuk, namun karena juklaknya belum ada dari pusat sehingga berjalan maksimal, akhirnya PP 63 belum dicabut. Yang terpenting kita di Kepri ini, meskipun kita terbagi dari berbagai lembaga, adan Pemprov, pemko dan Otorita Batam,harus punya satu visi. Ibarat suatu kereta kita harus punya satu tujuan mudah-mudahan kita yang di dalam satu kereta ini bisa mengantarkan Kepri untuk mencapai satu tujuan. Di kala, di masing-masing kereta ini sedikit saja ada yang menyimpang dari jalur, di situlah kelemahan kita. Kita harus berjuang agar kepastian hukum yang diberikan pemerintah pusat untuk kawasan FTZ di Kepri ini betul-betul konkret dan tetap. Jangan terpaku pada satu solusi yang sifatnya sementara.Kita harus tetap punya strategi jangka panjang kita, jadi pemerintah pusat akan melihat bahwa pemerintah di Kepri sudah satu suara. Itu seharusnya yang harus diperjuangkan oleh wakil rakyat yang berasal dari Provinsi Kepri.
Jadi mudah-mudahan saya dipercaya oleh masyarakat Kepri yang memahami betul permasalahan masyarakat Kepri dari awal.
Selain untuk menyongsong FTZ ini kita harus segera bergerak untuk mempersiapkan SDM (sumber daya manusia) melalui pendidikan formal dan non formal. Sehingga para birokrasi kita yang menjembatani para investor mempunyai daya tinggi inteltual dalam posisi tawar yang para investor. Kita di daerah perbatasam sebenarnya banyak potensi kita di Kepri yang harus di perjuangkan, misalnya di Natuna memiliki potensi gas, Lingga memiliki potensi perikanan. Bagaimana nanti kalau investor masuk, apa yang harus dipersiapkan? Maka tidak lain yang harus kita persiapkan adalah SDM yang handal. Dengan SDM yang handal kita tentu memikili posisi tawar dengan investor. Posisi tawar kita tidak hanya pada investor namun juga pada pemerintah pusat.Para legislator juga harus memahami konsep pembangunan daerah.
Kali ini, saya ingin mengajak pada seluruh masyarakat Kepri pilihlah wakil rakyat yang kita ketahui. Kadang masyarakat kita tidak mau tahu DPR pusat, dia hanya mau tahu DPRD provinsi dan kotanya. Padahal bagi kita yang tinggal di perbatasan banyak ditentukan oleh kebijakan di DPR pusat. Pilih mereka yang punya komitmen untuk daerah ini. Saya pertama kali memutuskan untuk maju, karena saya merasa dari sini, orang sini, saya punya usaha di sini, teman-teman saya di sini jadi kecil kemungkinan tali silaturahmi kita dengan masyarakat di sini akan terputus. Ini memang beban dan tanggung jawab saya. ***

Bankir yang Aktif di Kepemudaan dan Pendidikan
Rahmatsyah

Ramadhany, MBA.MSc atau lebih akrab disapa Dhany Ismeth 0.01>menyimpan banyak obsesi untuk kemajuan pendidikan dan kepemudaan di wilayah ini.0>
Ia merupakan sosok yang masih tergolong junior namun memiliki pola pikir yang matang. Jebolan Master of Business Administration Jurusan Perbankan dan Master of Science Jurusan Corporate Finance, Golden Gate University, San Fransisco,USA ini sehari – harinya melakoni hidup sebagai seorang pengusaha, aktivis kepemudaan hingga menjadi seorang pendidik. Sejak tahun 2000, Dhany menjadi Direktur Tritunas Group, sebuah perusahaan dengan bisnis utama bidang indrustri perhotelan dan restoran.
Bersama Tritunas Group ia menjadi Ketua Yayasan Tritunas Bangsa, sebuah yayasan sosial bidang Pusat Rehabil-1>itasi Korban Narkoba di Batam sekaligus menjadi Direktur PT Tritunas Karya yang bergerak di sektor kontruksi dan properti.
Pada bidang kepemudaan, sosok yang gemar berdiskusi ini tercatat sebagai Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Provinsi Kepulauan Riau ( 2004 – Sekarang ), dan sejak tahun 2005 samapai dengan sekarang Dhany dipercaya sebagai Sekjen Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Kepulauan Riau. Sementara dibidang pendidikan, sejak tahun 2001 pria berkepala plontos ini menjadi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam (UIB), menjadi Pendiri dan Pengawas Keuangan pada Yayasan Clarisa yang mengelola Sekolah Global Indo Asia, Batam (1998 – sekarang) serta pernah menjadi Kepala Devisi Keuangan Yayasan Paramadina Mulya sekaligus sebagai pendiri Universitas Paramadina Mulya, Jakarta (1998-1999).
Visinya adalah untuk menyediakan Fasilitas Pendidikan yang lebih baik kepada Generasi Muda Indonesia dengan cara melakukan simulasi cara berfikir yang kritis serta berbagi pengalaman khususnya dalam bidang bisnis dan bidang lainnya. Sekaligus ia menjlankan Misi untuk mendedikasikan kepada Profesional Muda Indonesia, khususnya Profesional Muda Batam dengan memadukan latar belakang keahlian bisnis dan bidang terkait yang bertaraf Internasional agar bermanfaat bagi diri sendiri maupun menjadi pendorong sukses bagi orang lain agar memiliki kemampuan dalam mengatur serta memanfaatkan semua aset demi kemajuan organisasi.
Sejak tahun 1989 hingga 2001, Dhany pernah menjadi Pegawai Keuangan di University Oregon,USA Kemudian menjadi Analis Anggaran di Kampus yang sama pada tahun 1992 bekerja sebagai Sales Respresentative Reksa Dana Omaha, San Jose,USA. Selanjutnya pada tahun 1993 Dhany bekerja di Bank Dagang Negara (BDN) New York Sebagai Accountant dan Credut Analyst. Karirnya didunia perbankan kemudian melesat saat Bank Exsport Import Indonesia (EXIM) New York mengajak dirinya untuk ditempatkan di Treasurry Departemen. Bank tersebut sebagai dealer money market/Foreign Exchange hingga tahun 1997.
Tanggung jawabnya adalah mengatur sumber dana sebagai pengalokasikan dana kepada Bank Pemerintah saat itu.
Lalu juga pernah mencatat prestasi dalam banyak hal antara lain pada bidang perdagangan luar negeri serta membantu pemasaran jaringan bisnis UKM Indonesia di Amerika Serikat melalui Departemen Perdagangan.
Gerakan reformasi di penghujung tahun 1997 yang mengawali pergantian rezim Orde Baru mengetuk hati nurani dan jiwa nasionalisme seorang Dhany untuk kembali ke tanah air untuk mengisi pembangunan dan bekerja bagi nusa dan bangsa.
Dhany lahir di Jakarta tahun 1969 menikah dengan Wulandari, Dhany dikaruniai dua orang anak yaitu Alifzufar Ramadhany dan Alifrayhan Ramadhany.***

Satu Sekolah dengan Barack Obama
Rahmatsyah

Ramadhany saat sekolah dasar di Jakarta tertanyata pernah satu sekolah dengan calon Presiden AS dari Partai Demokrat Barack Obama.

”Saya dan Obama sama-sama pernah sekolah di SD yang sama di SDN 001 Besuki, Jakarta,” kenangnya. Namun, di sekolah tersebut Dhany hanya sampai kelas 3, saat naik kelas 4, Dhany pindah ke SD Lab School IKIP, Jakarta.
Saat kecil Dhany juga termasuk anak yang aktif. ‘’Tak bisa berhenti berfikir dan agak-agak idealis sedikit nyetrik,’’ ungkap pria dua anak sambil memperlihatkan kepalanya yang sudah jarang ditumbuhi rambut.
Ia bercerita tentang kesukaannya melalap buku. “Sejak masih SD saya selalu dihadiahi buku bacaan oleh bapak (Ismeth Abdullah),” jelasnya, menerangkan awal mula kegemarannya membaca ini. Hingga kini Danny rajin mengoleksi buku bacaan.
Bahkan di saat duduk kelas 5 sekolah dasar, ia sudah suka jalan-jalan hingga ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta api. Di situ ia banyak belajar dari luar rumah tentang lingkungan sekitar. ‘’Itu yang membuat peka kepedulian sosial kita. Saya juga senang dengan tantangan,’’ katanya.
Bahkan di sela-sela perbincangan kami, datang seorang anak muda membawa buku bertulis, 110 Tokoh Pemuda Paling Berpengaruh di Batam.
Selain suka membaca, Danny juga rajin melakukan komparasi lapangan, sehingga dapat menyeimbangkan pengetahuan yang dia dapat dari buku dengan apa yang ada di lapangan.
Dia merasakan asuhan dari kakeknya yang memiliki 14 cucu. Sejak ia kecil selalu membaca buku-buku kakeknya soal Riau. ‘’Saya juga dulu kecil pernah di Tanjungpinang,’’ kata suami Wulandari ini.
Sedikit mengulas, Danny memang keturunan orang-orang besar. Kakeknya SM Amin adalah Gubernur Riau pertama. Amin-lah yang mengusulkan agar Riau lepas dari Sumatera Tengah. Dulu pusatnya masih di Tanjungpinang, bukan di Pekanbaru seperti saat ini.
Padahal saat itu, kondisi keamanan daerah ini masih membara di tengah pemberontakan permesta dan lain-lain. Kakek buyutnya pada tahun 1933 adalah orang yang memiliki jabatan penting hingga banyak mengenal beberapa pejabat Karisidenan Belanda di Tanjungpinang. ‘’Sebenarnya kalau bisa soal historis kita udah ada di sini sejak dulu,” ungkap ayah Alifzufar Ramadhany. >(jaq)

Tidak ada komentar: